Sebelumnya mari kita mengenal beliau
Copas :
BIOGRAFI K.H MUHAMMAD ALI BIN SYEKH ABDUL WAHAB
Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, ulama memiliki peranan yang sangat penting terhadap proses perubahan sosial politik, bahkan sejak perjuangan memperebutkan kemerdekaan ulama menjadi kekuatan terdepan melawan penjajah dengan menjadikan Pesantren sebagai basis perlawanan rakyat sebagai wujud dari pesan kenabian untuk kemaslahatan umat.
Dalam kehidupan masyarakat lokal, wilayah kekuasaan ulama biasanya di batasi oleh lembaga-lembaga Islam semacam mesjid dan Madrasah, dimana mereka berfungsi sebagai fungsionaris agama. Provinsi Jambi merupakan daerah yang mayoritas Penduduknya beragama Islam dan tercatat banyak lahir para ulama yang telah mengabdikan dirinya bagi perkembangan kehidupan beragama khususnya Agama Islam, diantaranya KH. Muhammad Ali Wahab ulama kharismatik Kuala Tungkal.
B. RIWAYAT HIDUP KH. MUHAMMAD ALI WAHAB
KH. Muhammad Ali Wahab lahir di Pasar Rebo Bram Itam kanan Kuala Tungkal pada bulan April 1933, ia dibesarkan dilingkungan keluarga yang sangat taat beragama, ayahnya KH Abdul Wahab bin Tuan guru H. Ismail bin Tuan guru H.M Thohir bin Tuan guru H. Syahabuddin, merupakan ulama yang sangat dihormati, dan pernah belajar di kota Mekah berguru dengan Syekh Said Yamani, sedangkan ibunya Hj. Roqayah berasal dari Batu Pahat zohor Malaysia, kedua orang tuanya menikah di kota mekah. KH. Muhammad Ali Wahab merupakan putra pertama dari empat bersaudara yaitu,
KH. M Ali,
KH. Abdullah,
Hj. Mursyidah, istri dari KH. M Sholeh Ramli dan Hj. Abbasyiah, istri dari KH. M Alwi Syibli.
Menurut seorang ulama kalimantan KH. Ali Wahab masih keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjari. Namun KH. Ali Wahab belum meyakini sepenuhnya dugaan tersebut karena belum ada bukti yang kuat. Namun jika melihat tulisan Muhammad Saperi Kadir tentang Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pelopor Dakwah Islam di Kalimantan, yang di tulis pada Mimbar Ulama (1976) disebutkan, bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari memiliki sebelas orang isteri, isterinya yang kedua bernama Bidur, dari isterinya ini Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memiliki empat orang anak yakni ;
1. Kadhi H. Abu su’ud,
2, Sa-idah.
3, Abu Naim,
4. H. Syahabuddin.
Berdasarkan silsilah tersebut, maka pertemuan geneologi antara KH. M. Ali Wahab dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berada pada Tuan guru H. Syahabuddin, maka jika ditarik garis lurus silsilahnya adalah : KH. Ali bin KH. Abdul Wahab bin Tuan Guru H. Ismail bin Tuan Guru H.M. Thohir bin Tuan Guru H. Syahabudiin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Beliau menikah pada tahun 1957 dengan HJ. Fathimah dan memiliki lima orang anak, yaitu :
H. Ahmad Fauzi
Hj. Fauziah istri dari KH.Abdul Hamid Kurnain
Drs. H Abdul latif M.Ag. (Dosen IAIN STS Jambi)
Drs. H. Anwar Sadat M.Ag.
H. ABD Hakim S.Ag. (Staf pengajar PP Al Baqiyatush Shalihat Kuala Tungkal)
KH.M. Ali Wahab sejak kecil sudah ditanamkan Ilmu pengetahuan Agama oleh kedua orang tuanya, pengembaraan intelektual KH.M. Ali Wahab diawali dengan belajar di Mekah selama dua tahun , kemudian melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah Al-Istiqomah di pasar Rebo Bram Itam Kanan Kuala Tungkal dan madrasah Perguran Hidayatul Islamiyah (PHI) Kuala Tungkal. Pada tahun 1953-1956 ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren As’ad yang didirikan oleh KH. Abdul Kadir Ibrahim yang juga Tokoh NU Propinsi Jambi. Perjalanan KH.M. Ali Wahab terus berlanjut ketika ia berangkat ke Kalimantan dan belajar di Madrasah Ad-diniyatul Islamiyah Brabai Kalimantan selatan (1956-1958). Sepulangnya dari kalimantan, KH. M. Ali Wahab memulai aktifitas keagamaannya dengan mengajar di Perguruan Hidayatul Islamiyah (PHI), dan memberikan ceramah di berbagai pengajian di surau dan mesjid Kuala Tungkal, tahun 1962 ia mendirikan Tarbiyatul Dakwah Wal Muzakaroh di Kuala Tungkal.
C. GERAKAN DAN PEMIKIRAN KH. MUHAMMAD ALI WAHAB.
Selain memiliki kedalaman Ilmu Pengetahuan Agama, KH.M. Ali Wahab juga di kenal sebagai ulama yang taat beribadah, perjalanan spritual dalam beribadah dan pengembangan dakwahnya di Kuala Tungkal menemukan babak baru, ketika tahun 1979 ia mengundang seorang guru Tarikat yakni Syekh Muhammad Nawawi yang berasal dari Berjan Purworejo Jawa Tengah yang membai’at KH. Ali sebagai guru tarikat Qadariyah Naqsabandiyah di Kuala Tungkal.
Pada awalnya, pengajian jamaah tarikat Qadariyah Wa Naqsabandiyah yang ia pimpin berpusat di rumah KH.M. Ali Wahab, namun lama kelamaan jumlah jamaah pengajian sebagai banyak sehingga rumahnya tidak mampu menampung jamaah, maka pengajian dipindahkan ke Mesjid Agung Kuala Tungkal. Pengajian yang di pimpin oleh KH.M. Ali dilaksanakan dua minggu sekali, tiap-tiap malam selasa dan selasa pagi setelah shalat Shubuh di hadiri begitu banyak jamaah, baik jamaah tarikat maupun masyarakat umum, sehinggga mesjid Agung Kuala Tungkal yang cukup besar sudah tidak mampu lagi menampung jamaah pengajian KH.M. Ali Wahab
Jamaah tarikat pimpinan KH.M. Ali Wahab tidak hanya berasal Kuala Tungkal tetapi juga sampai ke Singapore, Malaysia, Batam, Palembang, Riau dan Kepulauan Riau, puncak dari silaturrahmi jamaah tersebut terjadi setiap tanggal 11 Rabiul Akhir tiap tahun pada acara Haul Syekh Abdul Qadir Jailani, pada saat itu Kuala Tungkal dibanjiri oleh puluhan ribu jamaah tarikat dari berbagai daerah, propinsi maupun negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore Sejak KH.M. Ali Wahab menjadi pimpinan tarekat di Kuala Tungkal, jamaah pengajiannya terus bertambah, bahkan ia di jadikan sebagai tempat bertanya umat Islam tentang persoalan- persoalan keagamaan.
Menurut puteranya Drs. H.Abdul Latif. M.Ag, banyak masyarakat yang meminta KH.M. Ali untuk menuliskan materi pengajiannya sehingga dapat menjadi rujukan bagi umat Islam Kuala tungkal, saat ini tercatat ada dua belas kitab karangan KH.M. Ali Wahab yang tersebar di Kuala Tungkal, yaitu :
1.Tajhizul Mayyit
2.Jalaul Quluub
3.Idhhaarul Haq
4.Da’watul Haq
5.Fathul Mubin Fi Fidyatis Sholati wasshomi wal yamin
6. attasauf Bima,na amal Huat Thoriqoh
7.Terjemah Manaqib syekh Abdul qadir Al-Jailani
8. Al-Fataawat Tinkaliyah Al-jza Awwal Watitsany
9. Al-Umdah Fi Jawaazi Ta,khiiril Ihrom Ila Jiddah
10. Al-Mabadil, Aryroh Fit Thoriqoril Qodiriyah Wan Naqsabandiyah
11.Tuntunan Thoriqoh
12.Ta,addudul Jum’at
Ketokohan dan pengaruh KH.M. Ali Wahab semakin kuat di Kuala Tungkal ketika ia mendirikan Pondok Pesantren Albaqiyatush Shalihat pada tahun 1993 di parit Gompong Kuala Tungkal, dan di resmikan pada tanggal 13 April 1994. Pondok Pesantren Albaqiyatush shalihat menyelenggarakan pendidikan keagamaan dengan system yang umum di pakai di pondok pesantren . Peran Keagamaan yang dilakukannya di Kuala Tungkal, menempatkan beliau sebagai sosok ulama yang cukup disegani dan di hormati baik di Kuala Tungkal maupun di Provinsi Jambi, beliau seringkali dijadikan sebagai rujukan dalam membahas persoalan keagamaan yang terjadi ditengah- tengah masyarakat. Namun demikian segala sesuatu yang ada di alam dunia ini tidak ada yang abadi, pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1433, bersamaan dengan tanggal 15 Mei 2011, pukul 08.00 WIB, dalam usia 78 tahun, beliau telah kembali, tapi tidak kembali ke pondok Pesantrennya, tidak kembali kerumahnya, tapi beliau kembali kepangkuan Allah SWT, wafatnya KH. Muhammad Ali Wahab merupakan kehilangan besar masyarakat Kuala Tungkal dan provinsi Jambi, dialah tauladan umat, yang karya dan pengabdiannya akan dikenang bagi perkembangan kehidupan beragama di Kuala Tungkal.
Wallahu ‘Alam bish shawab..




